Renungan - Renungan Oleh Rm. Ign. Sumarya, SJ
Friday, 26 April 2013 23:34
“Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan tidak melakukannya” (2Tim 4:1-8; Mat 7:21-27)
“Bukan
setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam
Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di
sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan,
Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi
nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu
itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak
pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat
kejahatan!" "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan
melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan
rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir,
lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab
didirikan di atas batu.Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku
ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang
mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah
banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan
hebatlah kerusakannya.” (Mat 7:21-27),demikian kutipan Warta Gembira
hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka
mengenangkan pesta St.Petrus Canisius hari ini, saya sampaikan
catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Semangat atau
sikap mental yang menjiwai pelayanan pastoral Petrus Canisius adalah
‘bekerja keras’ (persevere). Ia bekerja keras memulihkan penghayatan
iman orang-orang Jerman, dan ia berhasil memperdalam dan memperbaharui
iman banyak orang, lebih-lebih di Eropa Tengah. Ia menulis katekismus
bagi umat guna mengajak dan memperingatkan umat agar hidup dan bertindak
sesuai dengan firman atau sabda Tuhan, sebagaimana tertulis di dalam
Kitab Suci. Ia memperbaiki
hidup beriman/menggereja dari dalam
meskipun untuk itu harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan
hambatan. Petrus Canisius menjadi pelindung bagi karya pastoral
pendidikan, dengan harapan para peserta didik meneladan semangat
hidupnya, maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan para guru atau
pelaksana karya pendidikan mendidik dan membina para peserta didik untuk
meneladan semangat Petrus Canisius: membaktikan diri dengan segala
kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan untuk mencerdaskan diri
guna memperbaharui hidup beragama, beriman, menggereja maupun
memasyarakat.
Marilah kita memperdalam dan memperkembangkan
semangat ‘mendengarkan dan melaksanakan’ firman atau sabda Tuhan, agar
hidup iman kita semakin mendalam dan handal, tahan menghadapi aneka
rayuan kenikmatan duniawi yang marak pada saat ini. Kita semua
diharapkan tumbuh berkembang sebagai orang/pribadi yang bijak, sehingga
apa yang kita lakukan dan katakan sungguh membangun kehidupan beriman
atau beragama. Kami berharap para pastor atau guru agama sungguh
mengusahakan pembaharuan hidup beriman umat, sehingga kehidupan bersama
semakin menarik, mempesona dan memikat.
• “Aku telah mengakhiri
pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah
memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang
akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya;
tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang
merindukan kedatangan-Nya.” (2Tim 4:7-8). Petrus Canisius kiranya telah
menghayati apa yang dikatakan oleh Paulus ini, yaitu “mengakhiri
pertandingan yang baik, mencapai garis akhir dan memelihara iman”.
Hidup dan bekerja ini bagaikan pertandingan dalam olah raga. Olahraga
yang kiranya baik menjadi contoh untuk kita jadikan bahan mawas diri
mungkin sepakbola. Juara dunia sepakbola terakhir adalah persatuan
sepakbola yang dijiwai bekerja keras dengan bermain sportif dan
kerjasama. Maka sekiranya kita mendambakan sukses dalam tugas pengutusan
dan pekerjaan hendaknya bekerja keras dengan bekerjasama dan sportif,
entah apapun yang menjadi pekerjaan atau tugas pengutusan kita. Marilah
kita ingat dan sadari bahwa masing-masing dari kita adalah buah atau
hasil kerjasama atau gotong-royong, yaitu kerjasama bapak-ibu atau
orangtua kita yang saling mengasihi dengan ditandai oleh kerjakeras dan
pengorbanan serta perjuangan. Maka selayaknya dan seharusnya kita juga
hidup dan bekerja dalam kerjsama, pengorbanan dan perjuangan. Kita semua
juga diingatkan dan diajak untuk saling memelihara iman:
memperkembangkan dan memperdalam iman kita, sehingga dalam kebersamaan
kita juga dapat menangkal dan melawan aneka godaan dan rayuan yang
berusaha merongrong kehidupan iman kita. Marilah apa pun yang kita
miliki kita baktikan kepada Tuhan dalam hidup dan bekerja bersama dengan
saudara-saudari
kita. Jangan menjadi kecil hati atau takut jika kita hanya memiliki keterampilan atau kecakapan kecil saja.
“Hai
Israel, percayalah kepada TUHAN! -- Dialah pertolongan mereka dan
perisai mereka. Hai kaum Harun, percayalah kepada TUHAN! -- Dialah
pertolongan mereka dan perisai mereka. Hai orang-orang yang takut akan
TUHAN, percayalah kepada TUHAN! -- Dialah pertolongan mereka dan perisai
mereka. TUHAN telah mengingat kita; Ia akan memberkati, memberkati kaum
Israel, memberkati kaum Harun” (Mzm 115:9-12)
Sumber dari : http://trinitas.or.id/renungan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar